Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Selasa, 25 Februari 2014
Lomba Cerpen Puisi April 2011
Lomba Cerpen - Puisi April 2011
lihat postingan sebelumnya mengenai Kontes SEO Bulan April 2011
Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi
LOMBA CIPTA CERPEN BERBAHASA INDONESIA DAN LOMBA CIPTA PUISI BAGI SISWA SMP KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2011
I. TEMA LOMBA
Upaya pembentukan dan penguatan karakter anak bangsa melalui penghayatan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat.
II. PESERTA LOMBA
Peserta lomba adalah siswa SMP, baik negeri maupun swasta, dengan syarat sebagai berikut:
• Siswa kelas VII dan atau kelas VIII saat mengikuti lomba;
• Terpilih sebagai peserta terbaik berdasarkan seleksi di tingkat sekolah.
• Setiap sekolah diperbolehkan mendaftarkan 2-3 peserta terbaik (laki-laki/perempuan) setelah melalui proses seleksi di tingkat sekolah;
• Pendaftaran peserta dilakukan mulai tanggal 28 Maret s.d. 2 April 2011 dengan cara mengirim naskah cerpen dan puisi, dengan menyertakan surat keterangan dari kepala sekolah, foto kopi rapor semester terakhir sebanyak 1 lembar yang telah dilegalisasi oleh kepala sekolah, dan persyaratan lain yang telah ditentukan.
• Pengiriman naskah ditujukan kepada :
1. Bp. Nur Sodiq (SMP Negeri 5 Purworejo);
atau
2. Ibu Siti Aminah (SMP Negeri 33 Purworejo)

III. PERSYARATAN NASKAH
• Cerpen dan puisi ditulis dalam bahasa Indonesia;
• Cerpen dan puisi harus asli, bukan terjemahan/saduran, dan belum pernah dilombakan/ dipublikasikan;
• Isi cerpen dan puisi sesuai dengan tata nilai agama dan norma kehidupan dalam masyarakat;
• Cerpen ditulis rapi dalam kertas bergaris sebanyak 1.000 – 1.200 kata atau 5-6 halaman; sedangkan puisi sebanyak 1 – 2 halaman.
• Sampul depan diberi identitas seperti berikut ini:
1) Judul Cerpen/Puisi
2) Nama siswa
3) Jenis kelamin
4) Tempat dan tanggal lahir
5) Kelas
6) Sekolah
7) Alamat sekolah, kode pos, dan telepon
8) Alamat rumah, kode pos, dan telepon
9) email
IV. ASPEK PENILAIAN
A. CERPEN
1 Kesesuaian isi dengan tema bobot 1
2 Struktur pengisahan dan bahasa bobot 4
3 Isi bobot 3
4 Keaslian dan kreativitas bobot 2
B. PUISI
1 Kesesuaian isi dengan tema bobot 1
2 Pemakaian bahasa dan sarana retorika bobot 4
3 Isi/makna bobot 3
4 Penyajian dan kreativitas bobot 2
V. JURI
• Dewan juri terdiri atas 3 orang yang dinilai memenuhi syarat, yaitu minimal sarjana pendidikan bahasa atau praktisi yang berkompeten, pernah menjadi juri sekurang-kurangnya pada tingkat rayon, dan mampu bersikap adil (independen).
• Keputusan Juri bersifat mutlak dan tidak dapat digugat.
VI. SELEKSI LANJUTAN
• Hasil seleksi naskah cerpen dan puisi akan diumumkan secara tertulis melalui subrayon masing-masing.
• Sepuluh peserta terbaik akan dipanggil untuk mengikuti seleksi lanjutan yang akan dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 11 April 2011 di SMP Negeri 33 Purworejo.
Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi
LOMBA CIPTA CERPEN BERBAHASA INDONESIA DAN LOMBA CIPTA PUISI BAGI SISWA SMP KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2011
I. TEMA LOMBA
Upaya pembentukan dan penguatan karakter anak bangsa melalui penghayatan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat.
II. PESERTA LOMBA
Peserta lomba adalah siswa SMP, baik negeri maupun swasta, dengan syarat sebagai berikut:
• Siswa kelas VII dan atau kelas VIII saat mengikuti lomba;
• Terpilih sebagai peserta terbaik berdasarkan seleksi di tingkat sekolah.
• Setiap sekolah diperbolehkan mendaftarkan 2-3 peserta terbaik (laki-laki/perempuan) setelah melalui proses seleksi di tingkat sekolah;
• Pendaftaran peserta dilakukan mulai tanggal 28 Maret s.d. 2 April 2011 dengan cara mengirim naskah cerpen dan puisi, dengan menyertakan surat keterangan dari kepala sekolah, foto kopi rapor semester terakhir sebanyak 1 lembar yang telah dilegalisasi oleh kepala sekolah, dan persyaratan lain yang telah ditentukan.
• Pengiriman naskah ditujukan kepada :
1. Bp. Nur Sodiq (SMP Negeri 5 Purworejo);
atau
2. Ibu Siti Aminah (SMP Negeri 33 Purworejo)

III. PERSYARATAN NASKAH
• Cerpen dan puisi ditulis dalam bahasa Indonesia;
• Cerpen dan puisi harus asli, bukan terjemahan/saduran, dan belum pernah dilombakan/ dipublikasikan;
• Isi cerpen dan puisi sesuai dengan tata nilai agama dan norma kehidupan dalam masyarakat;
• Cerpen ditulis rapi dalam kertas bergaris sebanyak 1.000 – 1.200 kata atau 5-6 halaman; sedangkan puisi sebanyak 1 – 2 halaman.
• Sampul depan diberi identitas seperti berikut ini:
1) Judul Cerpen/Puisi
2) Nama siswa
3) Jenis kelamin
4) Tempat dan tanggal lahir
5) Kelas
6) Sekolah
7) Alamat sekolah, kode pos, dan telepon
8) Alamat rumah, kode pos, dan telepon
9) email
IV. ASPEK PENILAIAN
A. CERPEN
1 Kesesuaian isi dengan tema bobot 1
2 Struktur pengisahan dan bahasa bobot 4
3 Isi bobot 3
4 Keaslian dan kreativitas bobot 2
B. PUISI
1 Kesesuaian isi dengan tema bobot 1
2 Pemakaian bahasa dan sarana retorika bobot 4
3 Isi/makna bobot 3
4 Penyajian dan kreativitas bobot 2
V. JURI
• Dewan juri terdiri atas 3 orang yang dinilai memenuhi syarat, yaitu minimal sarjana pendidikan bahasa atau praktisi yang berkompeten, pernah menjadi juri sekurang-kurangnya pada tingkat rayon, dan mampu bersikap adil (independen).
• Keputusan Juri bersifat mutlak dan tidak dapat digugat.
VI. SELEKSI LANJUTAN
• Hasil seleksi naskah cerpen dan puisi akan diumumkan secara tertulis melalui subrayon masing-masing.
• Sepuluh peserta terbaik akan dipanggil untuk mengikuti seleksi lanjutan yang akan dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 11 April 2011 di SMP Negeri 33 Purworejo.
Ayo Dukung Kontes SEO
Newport Beach Houses | Solusi Forum Komunitas Online Indonesia | Kecil Jadi Kawan, Besar Jadi Lawan | Harga Jual Blackberry iphone laptop murah | Komodo Island is new 7 wonders of world
Minggu, 08 Desember 2013
Cerpen Remaja Kau Merubah Segalanya
“Kau Merubah Segalanya”
oleh: Yunietha Sari Mangalla

“Woy Kie, telat mulu loe.. Sampai basah kayak gini lagi.” Kata Trisa
“Iya bawel, tadi kehujanan. Maklum gue kan naik motor, bukan kayak elu yang naik mobil. Tumben loe telat.” Jawab Yukie
“Gue kesiangan bangun tadi. Udah yuks masuk.” Ajak Trisa
“Yuukss..”
Mereka berdua memasuki ruang kelas. Seorang gadis menghampiri dan menyapa mereka berdua. Dia adalah Rita, murid baru di kelas mereka.
“Hai..” Sapa Rita
“Hai juga” Balas Yukie dan Trisa bingung
“Nama kalian siapa? Gue Rita, gue anak baru di sini.” Kata Rita memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya
“Yukie.” Jawab Yukie singkat dan pergi menuju bangkunya
“Gue Trisa. Oya, maaaf ya atas sikap Yukie, dia emang kayak gitu.” Kata Trisa kemudian menyambut tangan Rita
“Iya. Nggak masalah kok.”
“Gue ke sana dulu ya, nyusul Yukie.”
“Ok.”
∞∞∞
Suatu sore hari, Nara berkunjung ke rumah Rita untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Nara adalah teman Rita di sekolah. Ternyata rumah Rita bersebelahan dengan rumah Yukie. Rita mempersilahkan Nara masuk ke rumahnya dan mengambilkan minuman. Mereka mengerjakan tugas sambil berbincang-bincang ria.“Gue nggak nyangka ternyata loe tetanggaan ama Yukie, Ta.” Kata Nara sambil meminum es jeruknya.
“Gue juga Nar. Tapi kayaknya Yukie nggak peduli gitu deh, gue tetangga dia atau bukan. Padahal ortunya baik banget. Yukie kenapa sih Nar, kok cuek en’ dingin gitu sikapnya? Kemaren gue tanya sama Trisa, tapi Trisa nggak mau bilang.” Terang Rita
“Hmm.. Yukie sebenarnya anak yang ceria en’ bersemangat. Gue tao kok kenapa sikap Yukie begitu. Semua orang juga tao kali. Tapi loe jangan kaget ya dengerin cerita gue.”
“Iya.. Iya.. Ayo donk cerita, gue penasaran nih.” Pinta Rita
“Yukie itu cuek karna ditinggal mati ma pacarnya.” Terang Nara
“Hah?? Kok bisa??” Kata Rita kaget. “
“Gini ceritanya. Dulu Yukie punya pacar, namanya Rendra. Mereka pacaran dari SMP, sekitar empat tahun deh. Dulu mereka hampir aja mau tunangan. Rendra itu saudara kembarnya Trisa. Rendra meninggal karena kecelakaan waktu dia mau jemput Yukie. Yukie syok banget waktu itu. Dia merasa bersalah atas kematian Rendra en’ dia nggak terima kalau Rendra meninggal. Dia aja nangis histeris gitu, sampai-sampai jatuh pingsan waktu pemakaman. Sejak kematian Rendra, Yukie ya jadi cuek en’ dingin gitu. Jangankan cowok yang deketin dia, cewek aja dia nggak peduli.” Cerita Nara
“Kasian juga ya si Yukie. Oya, kok loe tahu banget sih soal mereka? Emangnya loe kenal ya ma Rendra?” Tanya Rita
“Satu sekolah kenal lagi siapa Rendra. Cowok paling pinter en’ paling cool di sekolah. Dari SMP sampai sekarang gue itu satu kelas ma mereka bertiga. Jadi gue kenal banget ma Rendra. Waktu pemakaman Rendra aja nih, satu sekolah pada datang. Mereka sedih banget kehilangan seorang yang begitu membanggakan buat sekolah.” Terang Nara
“Hmm. Rendra tipe cowok yang perfect ya. Pantas Yukie nggak bisa lupain dia.” Gumam Rita
“Iya. Sekarang kita ngerjain tugas dulu yuk, besok sudah harus dikumpulin nih.”
“Hayuu..”
∞∞∞
Saat jam istirahat, Yukie duduk seorang diri sambil membaca buku di taman sekolah. Kemudian Rita menghampirinya.“Hai Kie.” Sapa Rita
“Ngapain loe kesini.” Kata Yukie tanpa mengalihkan matanya dari buku
“Gue Cuma mau berteman sama loe kok, Kie. Kok loe sendirian, Trisa mana?”
“Trisa ke kantin.” Jawab Yukie singkat
“Gue boleh ngomong sesuatu ama loe?” Tanya Rita
“Ngomong aja. Nggak perlu basa basi.”
“Kie, loe jangan cuek gitu donk. Loe hidup bukan untuk cuek mulu ke orang-orang.” Ucap Rita
“Apa peduli loe sih. Lagian loe juga nggak bakal ngerti kenapa gue kayak gini.” Bentak Yukie
“Gue ngerti apa yang loe rasain. Tapi loe jangan terus-terusan terpuruk dengan keadaan ini.”
“Maksud loe apa? Tao apa loe soal gue?”
“Gue tao semuanya. Nara udah cerita semuanya ke gue. Loe kayak gini karena Rendra kan. Seharusnya loe bisa atasi kesedihan loe, Kie. Bukan dengan nyiksa diri loe kayak gini. Gue yakin Rendra pasti sedih kalau ngelihat loe kayak gini.”
“Loe nggak berhak ngomong kayak gitu ke gue. Itu urusan gue, bukan urusan loe.” Bentak Yukie kemudian pergi meninggalkan Rita yang berdiri terpaku menatap kepergiannya.
∞∞∞
Yukie tak bisa memejamkan matanya. Kata-kata Rita tadi siang begitu melekat di kepalanya. Yukie mulai berpikir, kata-kata Rita ada benarnya. Tak seharusnya dia begitu cuek kepada orang-orang. Yukie menyesal atas sikapnya ke Rita tadi siang.“Rita kayaknya benar, nggak semestinya gue cuek en’ dingin ke orang-orang. Gue harus bisa ceria kayak dulu lagi. Gue yakin Rendra pasti udah tenang di sana. Besok gue harus minta maaf sama Rita atas sikap gue ke dia tadi siang.” Gumam Yukie
∞∞∞
Keesokan harinya di sekolah, anak-anak heran melihat tingkah Yukie begitu juga Trisa. Dia selalu menyapa orang-orang yang ditemuinya di sekolah. Mereka hanya angguk-angguk kepala bingung saat Yukie menyapa mereka.
“Woy Kie, kesambet apa loe sampai berubbah gitu. Biasanya loe cuek mulu ma orang-orang.” Ucap Trisa
“Hehe.. gue baru sadar Tris, nggak seharusnya kan gue cuek mulu sama orang-orang cuma gara-gara gue ditinggal Rendra.” Ungkap Yukie
“Yups. Akhirnya gue bisa lihat senyum loe lagi.”
“Oya, loe lihat Rita nggak? Gue mau minta maaf sama dia. Kemaren gue udah kasar banget sama dia.”
“Itu Rita tuh, lagi sama Nara. Kita samperin aja yuk.” Kata Trisa sambil menunjuk dua orang gadis yang sedang duduk di taman sekolah. Mereka berdua pun menghampirinya.
“Hai Ta.” Sapa Yukie
“Hai juga Kie.” Kata Rita. Nara dan Rita bingung melihat sikap Yukie
“Kata-kata loe kemaren ada benernya, Ta. Nggak seharusnya gue bersikap antipati sama orang-orang. Gue mau minta maaf atas kejadian kemaren. Loe mau kan maafin gue. Oya Nar, gue juga mau minta maaf sama loe. Gue sering jutek ma loe.” Ucap Yukie
“Iya Kie, kita maafin loe kok.” Kata Rita dan Nara sambil tersenyum
“Makasih ya Ta, loe udah ngerubah segalanya.” Kata Yukie
“Akhirnya Yukie yang ceria kembali lagi.” Ucap Trisa
Yukie pun menjadi anak yang ceria dan bersemangat kembali. Semua orang senang melihat perubahan Yukie. Akhirnya Mereka berempat pun menjadi sahabat yang paling bahagia.
∞∞ THE END ∞∞
=======================================================
Nama : Yunietha Sari Mangalla
Email : iechiegochocolate@ymail.com
FB : yurievirca@yahoo.co.id (Yunietha Iechiego shiie’VircanKimbum)
Twitter dan koprol : inyun_iechiego
Plurk : iechiego
Blog : yurieichigeky.blogspot.com
Baca erpen karya Yunietha yang lain dalam Aku Takut Duka Itu Terulang Kembali dan Racing Love.
========================================================
Cerpen Romantis Kata Terakhir
Cerpen Romantis: Kata Terakhir
oleh: Ghianna Azza
Dina menatap kosong papan tulis di hadapannya. Bukan karena papan tulis itu bersih tapi justru karena penuh catatan bejibun rumus kalkulus yang dimata Dina lebih mirip hieroglyph. “Waduh, bisa cepet tua nih aku kalo kayak gini mulu,” gumam Dina.
“Perasaan tiap hari kamu ngomong gitu terus deh..”
Dina menoleh pada cowok di sampingnya. “Oh ya? Masa sih?”
“Yaelaah... “ tukas Ravi sambil geleng-geleng kepala. Takjub.
“Pak Darman tuh hobi banget sih nyiksa orang pake rumus-rumus gitu? Tiap hari lagi ! Kayaknya tuh orang ngerasa nggak afdol kali ya kalo belum mamerin spesies rumus-rumus di kelas,” lanjut Dina menggerutu.
“Alaa.. masi mendingan juga kalian-kalian ini yang notabene cewek. Bapak itu kan rada jelatatan, pilih kasih kalo sama cewek. Liat ada yang ‘bagus’ dikit aja pasti langsung di uber deh..”
Dina mengernyitkan dahinya. Heran. “Tahu darimana kamu, Rav ?”
“Hahahaa.. topik basi, tahu ! Kadang juga aku heran lho. Cakep juga enggak. Tajir? Lumayanlah.. Kulitnya juga sawo matang, nggak putih. Kalo urusan keren.. Apalagi. Nggak banget deh. Tapi kok bapak itu pede bener yah terang-terangan menganak-emaskan cewek-cewek. Dasar hidung belang. Apalagi sama si Nabila. Nilai-nilai kalkulus Nabila juga bagus-bagus lho katanya,” seloroh Ravi tanpa dosa.
“Heh ! Kurang ajar sama orang tua, kualat lho ntar.. terus apa tadi ? Sawo matang? Udah bukan sawo matang lagi kali, tapi kayak biji sawo! ”
“Sekarang siapa yang kurang ajar?” balas Ravi. Dina hanya menimpali dengan senyum masam, apalagi setelah nama Nabila disebut-sebut. Langsung menyeret tingkat moody-nya pada level yang paling dasar. Hatinya sakit saat mendengar nama itu di sebut. Betapa tidak ? Dina harus mengenyahkan kenyataan bahwa hubungan asmaranya dengan Ardi yang umurnya udah hampir 3 taun harus putus karena Ardi nyeleweng. Dan cewek yang berstatus sebagai orang ketiga itu.. Nabila. Yah, siapa lagi. Cantik, langsing, putih, rambut panjang, tajir ! Wow, bener-bener tipekal yang perfect abis buat sebagian cowok. Apalagi cowok macem Ardi yang tabiatnya emang suka pamer. Sayang Nabila otaknya kosong. Dina inget pas mereka baru jadian (di hari yang sama saat Dina-Ardi putus), Ardi lewat di depannya sambil memberikan ekspresi ‘kamu-nggak-ada-apa-apanya-dibandingin-Nabila’ melenggang santai sambil membiarkan si cewek plastik itu bergelayut manja di salah satu lengannya. Oh-oh.. Cewek plastik? Ya, tentunya Dina punya alasan kenapa panggilan itu lebih pas. Demi menunjang penampilan yang ngebuat cowok nggak berkedip, Nabila rela tubuhnya mendapat suntikan di bagian sana sini. Rupiah jelas bukan masalah buat dia.
“Ngapain kalian berdua masih di sini? Bukannya kuliah Pak Darman udah kelar dari tadi?”
Deg ! Dina hapal betul suara siapa itu. Ardi. Panjang umur nih cowok, baru juga di batin. “Lagi nyatet aja. Lo bisa lihat sendiri kan? Itu juga kalo lo punya mata,” jawab Ravi dingin. Ravi satu-satunya sahabat cowok Dina yang paling ‘ngerti’ apa dan bagaimana seorang Arindina. Dia bahkan nyaris nonjok Ardi pas Dina cerita mereka putus karena si cewek plastik.
Sadar pertanyaannya disambut dengan tajam sama Ravi, Ardi malah cuek duduk di depan Dina dan sambil tersenyum (yang pastinya dibuat-buat) dia bilang, “ Hai Din. Lama ya nggak ngobrol. Apa kabar ? ”
Gimana cara menjawab pertanyaan sederhana tadi ya? Kalo itu datang pada saat yang biasa, dari orang yang biasa saja dan dalam situasi yang biasa juga, mungkin jawabannya juga pasti bakal biasa aja. Well, pastinya Dina nggak bisa bilang,” Baik, thanks.” Sementara sebenernya pengen banget jawab, “Nggak ada urusannya sama kamu, cowok brengsek !!” Tapi tentu bagi jenis cewek baik-baik macam dia, memalukan kalo tata kramanya harus hancur cuma gara-gara hal sepele. Nggak level dong. Akhirnya dia jawab,”Kayak yang kamu lihat,” dengan ekspresi sebeku es di Antartika. Dingin.
Ini emang bukan kali pertama Ardi nyamperin Dina pasca insiden putusnya dua sejoli itu. Seenggaknya dalam sebulan terakhir ini, rutinitas Ardi nyamperin Dina makin sering. Hampir lebih sering dari jadwal orang minum obat. Meski Dina cuek, tapi reaksi Ravi berbeda. Ravi terkesan lebih agresif pada momen-momen tertentu saat mereka bertiga ada dalam lingkup dimensi yang sama. Cowok maskulin itu jelas-jelas memposisikan dirinya sebagai tameng bagi Dina. Ardi tahu betul benih cinta buat Dina sudah tertanam lama di hati Ravi. Benih itu mulai tumbuh seiring retaknya jalinan kasih Dina-Ardi. Sayangnya, mata Dina terlalu rabun buat melihat binar-binar ketulusan di mata Ravi. Dina juga nggak peka menangkap pendar-pendar cinta di setiap tatapan Ravi. Lubang di hati Dina masih terlalu sakit hingga membutakan nalurinya.
“Kamu masih sayang sama dia, Din ?” tanya Ravi lirih setelah Ardi hengkang dari sana.
“Enggak sama sekali..” jawab Dina perlahan. Ada keraguan yang sarat di sana. Tentu saja enggak mungkin dia langsung bisa ngelupain Ardi, cinta pertamanya itu begitu saja. Sosok Ardi masih menjadi batu sandungan baginya. Bahkan kapanpun Dina merasa semangat hidupnya melemah, dia cukup mengeluarkan foto Ardi (yang masih sengaja disimpannya) kemudian melakukan sayatan-sayatan di foto itu dengan silet sambil meracau sumpah serapah atau bahkan kutukan dan dijamin semangat Dina bakal langsung melejit seenggaknya 100 persen.
“Aku.. “ ucap Ravi ragu-ragu. Dina bingung melihat mimik wajah Ravi yang kontan berubah pucat. “Kenapa, Rav ?” tanya Dina khawatir.
“Aku.. Aku suka kamu, Din.”
Hening.
“Aku nggak tahu sejak kapan, tapi aku sayang kamu, Din. Sekarang. Mudah-mudahan sih sampe nanti-nanti..” Pengakuan polos Ravi kontan membuat Dina dag-dig-dug-der. Andai tubuhnya itu komputer mungkin langsung shut down saat itu juga. Dina merasa ini sesuatu yang salah. Bukankah mereka bersahabat ? Bukankah Ravi tahu Dina baru putus dari Ardi 5 bulan lalu setelah 3 tahun jalinan kasih mereka ?
Dunia selalu bergulir dengan cara yang aneh. Susah ditebak. Memang takdir atau hanya kebetulan semata, siapa yang tahu? Siapa yang berani menebak? Barangkali hal yang kita anggap sepele sekalipun di masa depan nantinya akan memberikan dampak yang luar biasa. Teorinya, memang begitu. Nggak ada yang dapat benar-benar di salahkan. Lantas, apa perasaan Ravi itu salah ? Kalo itu salah kenapa Dina merasa bahwa perasaan yang salah itu adalah hal yang benar ? Berbagai pikiran ayik singgah di kepala Dina. Bermain kejar-kejaran membuyarkan logikanya dan seakan mereka berkata mengejek ,” Apa hati kamu udah bener-bener buta, Arindina ? Ternyata bukan hanya jatuh cinta tapi patah hati juga bisa membuat seseorang menjadi buta dan tuli di saat yang bersamaan sekaligus !”
“Kalo kamu nggak mau ngomong apa-apa.. nggak masalah kok,” tukas Ravi sambil tersenyum. Senyuman memabukkan yang kalo di pamerin ke cewek lain (selain Dina yang udah terbiasa dapet senyum kayak gitu) pasti bakal bikin cewek-cewek pada ber-ahh dan ber-ohh saking manisnya. “Dina, aku balik duluan ya. Ada perlu ke toko buku,” lanjut Ravi gugup sambil beranjak dari sisi Dina.
Dina beranjak dari kelas dengan ogah-ogahan. “Dinaa..” panggil Ardi saat Dina melintas di koridor. “Kenapa lagi ?” balasnya jutek. “Aku mau ngomong bentar. Bisa kan, Din ?” sambung Ardi gelagapan.
“Ya udah buruan ngomong.”
“Ehm.. ngomong di tempat lain aja ya. Gimana kalo di cafe kita yang biasanya aja?”
“Ngomong sekarang atau nggak usah sekalian !” tegas Dina galak. Dengan raut terpaksa, Ardi akhirnya bilang tentang keinginannya buat balikan sama Dina. Nggak ketinggalan sekilas info mengenai tingkah laku dan perlakuan Nabila ke Ardi yang lebih mirip tuan putri pada pembokatnya.
Dina melangkah pelan (mungkin lebih tepatnya merayap saking leletnya) menuju jalan raya di depan kampus. Pikirannya kacau apalagi setelah pengakuan Ardi barusan. Dina nggak sadar sebuah Honda Jazz melaju dengan kecepatan cahaya menuju ke arahnya. Pada detik yang sama, sepasang lengan kekar meraup tubuhnya dan dengan sekali hentakan melentingkan tubuh Dina ke tepi. Seperti kilat, segala sesuatunya terjadi begitu cepat. Jalanan langsung ramai. Semua orang tumpah ruah disana bak lautan manuia. Penasaran, Dina pun mendekat berusaha menyeruak diantara lautan manusia dadakan itu sambil menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Serasa di hantam batu seberat 1 ton, Dina menatap tubuh terkapar di hadapannya. Ravi. Darah segar mengucur dari pelipis kirinya. Ingin rasanya menjerit tapi kerongkongannya tercekat. Dina hanya mampu terpaku, membatu di tepi jalan sampai sebuah ambulans mengangkut tubuh Ravi.
Ravi, sahabat terbaiknya itu kini terbaring lemah di ICU. Cowok yang beberapa saat lalu baru saja menyatakan perasaannya pada Dina itu kini tengah meregang nyawa karenanya. Dina terluka. Bukan fisik, tapi batin. Harapan itu memang masih ada. Harapan untuk dapat memupuk kembali bunga cintanya bersama Ardi yang dulu sempat layu. Jauh di dalam hatinya nama Ardi memang masih terukir manis. Meski nggak lagi semanis dulu. Tapi biar bagaimanapun Ardi adalah cinta pertamanya. Dan kayaknya 5 bulan itu waktu yang nggak cukup buat sekadar mengenyahkan bayang-bayang Ardi yang emang udah nongkrong tahunan di hatinya. Di saat yang sama, lubang di hati Dina menganga kembali, menghadirkan atmosfer pilu yang menyayat perih hatinya. Lubang yang selama 5 bulan terakhir ini menguras air matanya.
ReadFull Article ..
oleh: Ghianna Azza
Dina menatap kosong papan tulis di hadapannya. Bukan karena papan tulis itu bersih tapi justru karena penuh catatan bejibun rumus kalkulus yang dimata Dina lebih mirip hieroglyph. “Waduh, bisa cepet tua nih aku kalo kayak gini mulu,” gumam Dina.

Dina menoleh pada cowok di sampingnya. “Oh ya? Masa sih?”
“Yaelaah... “ tukas Ravi sambil geleng-geleng kepala. Takjub.
“Pak Darman tuh hobi banget sih nyiksa orang pake rumus-rumus gitu? Tiap hari lagi ! Kayaknya tuh orang ngerasa nggak afdol kali ya kalo belum mamerin spesies rumus-rumus di kelas,” lanjut Dina menggerutu.
“Alaa.. masi mendingan juga kalian-kalian ini yang notabene cewek. Bapak itu kan rada jelatatan, pilih kasih kalo sama cewek. Liat ada yang ‘bagus’ dikit aja pasti langsung di uber deh..”
Dina mengernyitkan dahinya. Heran. “Tahu darimana kamu, Rav ?”
“Hahahaa.. topik basi, tahu ! Kadang juga aku heran lho. Cakep juga enggak. Tajir? Lumayanlah.. Kulitnya juga sawo matang, nggak putih. Kalo urusan keren.. Apalagi. Nggak banget deh. Tapi kok bapak itu pede bener yah terang-terangan menganak-emaskan cewek-cewek. Dasar hidung belang. Apalagi sama si Nabila. Nilai-nilai kalkulus Nabila juga bagus-bagus lho katanya,” seloroh Ravi tanpa dosa.
“Heh ! Kurang ajar sama orang tua, kualat lho ntar.. terus apa tadi ? Sawo matang? Udah bukan sawo matang lagi kali, tapi kayak biji sawo! ”
“Sekarang siapa yang kurang ajar?” balas Ravi. Dina hanya menimpali dengan senyum masam, apalagi setelah nama Nabila disebut-sebut. Langsung menyeret tingkat moody-nya pada level yang paling dasar. Hatinya sakit saat mendengar nama itu di sebut. Betapa tidak ? Dina harus mengenyahkan kenyataan bahwa hubungan asmaranya dengan Ardi yang umurnya udah hampir 3 taun harus putus karena Ardi nyeleweng. Dan cewek yang berstatus sebagai orang ketiga itu.. Nabila. Yah, siapa lagi. Cantik, langsing, putih, rambut panjang, tajir ! Wow, bener-bener tipekal yang perfect abis buat sebagian cowok. Apalagi cowok macem Ardi yang tabiatnya emang suka pamer. Sayang Nabila otaknya kosong. Dina inget pas mereka baru jadian (di hari yang sama saat Dina-Ardi putus), Ardi lewat di depannya sambil memberikan ekspresi ‘kamu-nggak-ada-apa-apanya-dibandingin-Nabila’ melenggang santai sambil membiarkan si cewek plastik itu bergelayut manja di salah satu lengannya. Oh-oh.. Cewek plastik? Ya, tentunya Dina punya alasan kenapa panggilan itu lebih pas. Demi menunjang penampilan yang ngebuat cowok nggak berkedip, Nabila rela tubuhnya mendapat suntikan di bagian sana sini. Rupiah jelas bukan masalah buat dia.
“Ngapain kalian berdua masih di sini? Bukannya kuliah Pak Darman udah kelar dari tadi?”
Deg ! Dina hapal betul suara siapa itu. Ardi. Panjang umur nih cowok, baru juga di batin. “Lagi nyatet aja. Lo bisa lihat sendiri kan? Itu juga kalo lo punya mata,” jawab Ravi dingin. Ravi satu-satunya sahabat cowok Dina yang paling ‘ngerti’ apa dan bagaimana seorang Arindina. Dia bahkan nyaris nonjok Ardi pas Dina cerita mereka putus karena si cewek plastik.
Sadar pertanyaannya disambut dengan tajam sama Ravi, Ardi malah cuek duduk di depan Dina dan sambil tersenyum (yang pastinya dibuat-buat) dia bilang, “ Hai Din. Lama ya nggak ngobrol. Apa kabar ? ”
Gimana cara menjawab pertanyaan sederhana tadi ya? Kalo itu datang pada saat yang biasa, dari orang yang biasa saja dan dalam situasi yang biasa juga, mungkin jawabannya juga pasti bakal biasa aja. Well, pastinya Dina nggak bisa bilang,” Baik, thanks.” Sementara sebenernya pengen banget jawab, “Nggak ada urusannya sama kamu, cowok brengsek !!” Tapi tentu bagi jenis cewek baik-baik macam dia, memalukan kalo tata kramanya harus hancur cuma gara-gara hal sepele. Nggak level dong. Akhirnya dia jawab,”Kayak yang kamu lihat,” dengan ekspresi sebeku es di Antartika. Dingin.
Ini emang bukan kali pertama Ardi nyamperin Dina pasca insiden putusnya dua sejoli itu. Seenggaknya dalam sebulan terakhir ini, rutinitas Ardi nyamperin Dina makin sering. Hampir lebih sering dari jadwal orang minum obat. Meski Dina cuek, tapi reaksi Ravi berbeda. Ravi terkesan lebih agresif pada momen-momen tertentu saat mereka bertiga ada dalam lingkup dimensi yang sama. Cowok maskulin itu jelas-jelas memposisikan dirinya sebagai tameng bagi Dina. Ardi tahu betul benih cinta buat Dina sudah tertanam lama di hati Ravi. Benih itu mulai tumbuh seiring retaknya jalinan kasih Dina-Ardi. Sayangnya, mata Dina terlalu rabun buat melihat binar-binar ketulusan di mata Ravi. Dina juga nggak peka menangkap pendar-pendar cinta di setiap tatapan Ravi. Lubang di hati Dina masih terlalu sakit hingga membutakan nalurinya.
“Kamu masih sayang sama dia, Din ?” tanya Ravi lirih setelah Ardi hengkang dari sana.
“Enggak sama sekali..” jawab Dina perlahan. Ada keraguan yang sarat di sana. Tentu saja enggak mungkin dia langsung bisa ngelupain Ardi, cinta pertamanya itu begitu saja. Sosok Ardi masih menjadi batu sandungan baginya. Bahkan kapanpun Dina merasa semangat hidupnya melemah, dia cukup mengeluarkan foto Ardi (yang masih sengaja disimpannya) kemudian melakukan sayatan-sayatan di foto itu dengan silet sambil meracau sumpah serapah atau bahkan kutukan dan dijamin semangat Dina bakal langsung melejit seenggaknya 100 persen.
“Aku.. “ ucap Ravi ragu-ragu. Dina bingung melihat mimik wajah Ravi yang kontan berubah pucat. “Kenapa, Rav ?” tanya Dina khawatir.
“Aku.. Aku suka kamu, Din.”
Hening.
“Aku nggak tahu sejak kapan, tapi aku sayang kamu, Din. Sekarang. Mudah-mudahan sih sampe nanti-nanti..” Pengakuan polos Ravi kontan membuat Dina dag-dig-dug-der. Andai tubuhnya itu komputer mungkin langsung shut down saat itu juga. Dina merasa ini sesuatu yang salah. Bukankah mereka bersahabat ? Bukankah Ravi tahu Dina baru putus dari Ardi 5 bulan lalu setelah 3 tahun jalinan kasih mereka ?
Dunia selalu bergulir dengan cara yang aneh. Susah ditebak. Memang takdir atau hanya kebetulan semata, siapa yang tahu? Siapa yang berani menebak? Barangkali hal yang kita anggap sepele sekalipun di masa depan nantinya akan memberikan dampak yang luar biasa. Teorinya, memang begitu. Nggak ada yang dapat benar-benar di salahkan. Lantas, apa perasaan Ravi itu salah ? Kalo itu salah kenapa Dina merasa bahwa perasaan yang salah itu adalah hal yang benar ? Berbagai pikiran ayik singgah di kepala Dina. Bermain kejar-kejaran membuyarkan logikanya dan seakan mereka berkata mengejek ,” Apa hati kamu udah bener-bener buta, Arindina ? Ternyata bukan hanya jatuh cinta tapi patah hati juga bisa membuat seseorang menjadi buta dan tuli di saat yang bersamaan sekaligus !”
“Kalo kamu nggak mau ngomong apa-apa.. nggak masalah kok,” tukas Ravi sambil tersenyum. Senyuman memabukkan yang kalo di pamerin ke cewek lain (selain Dina yang udah terbiasa dapet senyum kayak gitu) pasti bakal bikin cewek-cewek pada ber-ahh dan ber-ohh saking manisnya. “Dina, aku balik duluan ya. Ada perlu ke toko buku,” lanjut Ravi gugup sambil beranjak dari sisi Dina.
Dina beranjak dari kelas dengan ogah-ogahan. “Dinaa..” panggil Ardi saat Dina melintas di koridor. “Kenapa lagi ?” balasnya jutek. “Aku mau ngomong bentar. Bisa kan, Din ?” sambung Ardi gelagapan.
“Ya udah buruan ngomong.”
“Ehm.. ngomong di tempat lain aja ya. Gimana kalo di cafe kita yang biasanya aja?”
“Ngomong sekarang atau nggak usah sekalian !” tegas Dina galak. Dengan raut terpaksa, Ardi akhirnya bilang tentang keinginannya buat balikan sama Dina. Nggak ketinggalan sekilas info mengenai tingkah laku dan perlakuan Nabila ke Ardi yang lebih mirip tuan putri pada pembokatnya.
* * *
Dina melangkah pelan (mungkin lebih tepatnya merayap saking leletnya) menuju jalan raya di depan kampus. Pikirannya kacau apalagi setelah pengakuan Ardi barusan. Dina nggak sadar sebuah Honda Jazz melaju dengan kecepatan cahaya menuju ke arahnya. Pada detik yang sama, sepasang lengan kekar meraup tubuhnya dan dengan sekali hentakan melentingkan tubuh Dina ke tepi. Seperti kilat, segala sesuatunya terjadi begitu cepat. Jalanan langsung ramai. Semua orang tumpah ruah disana bak lautan manuia. Penasaran, Dina pun mendekat berusaha menyeruak diantara lautan manusia dadakan itu sambil menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Serasa di hantam batu seberat 1 ton, Dina menatap tubuh terkapar di hadapannya. Ravi. Darah segar mengucur dari pelipis kirinya. Ingin rasanya menjerit tapi kerongkongannya tercekat. Dina hanya mampu terpaku, membatu di tepi jalan sampai sebuah ambulans mengangkut tubuh Ravi.
Ravi, sahabat terbaiknya itu kini terbaring lemah di ICU. Cowok yang beberapa saat lalu baru saja menyatakan perasaannya pada Dina itu kini tengah meregang nyawa karenanya. Dina terluka. Bukan fisik, tapi batin. Harapan itu memang masih ada. Harapan untuk dapat memupuk kembali bunga cintanya bersama Ardi yang dulu sempat layu. Jauh di dalam hatinya nama Ardi memang masih terukir manis. Meski nggak lagi semanis dulu. Tapi biar bagaimanapun Ardi adalah cinta pertamanya. Dan kayaknya 5 bulan itu waktu yang nggak cukup buat sekadar mengenyahkan bayang-bayang Ardi yang emang udah nongkrong tahunan di hatinya. Di saat yang sama, lubang di hati Dina menganga kembali, menghadirkan atmosfer pilu yang menyayat perih hatinya. Lubang yang selama 5 bulan terakhir ini menguras air matanya.
***
Langganan:
Postingan (Atom)